Serat Nela
Serat Nela
Untukmu, Daflan
Hai
Daflan, sehatkah kamu?
Aku kembali Daflan, kau merindukanku?
Sepertinya begitu, hmm baiklah aku mulai
dengan beberapa hal yang aku alami selama kau tak mendengar kabarku. Salah
satunya adalah surat Nela, sudah lama aku menerima surat Nela ini Daflan.
Daflan bukan maksud aku tak menghiraukan
dengan tak membalas suratnya, eh bukan “tak” tetapi “belum” membalas
suratnya. Aku binggung membalasnya dengan apa, surat kembalikah? Atau dengan
diriku yang langsung berada di sampingya.
Karena pada dasarnya aku pun tak mengenalnya siapa Nela, bagaimana aku
bisa mengirimkan surat kembali jika aku tak mengenalnya, Coba kau baca surat
Nela untukku.
Dear
Alena,
Hallo
Alena, apa kabarmu? Terkejut kah kau menerima suratku ini? Semoga saja iya,
karena dengan kau terkejut semakin besar rasa penasaran kau terhadapku dan kau
akan membaca suratku ini hingga habis dan kau pasti akan membantuku, aku harap
seperti itu Alena. Semoga kau menjadi
kawan baikku.
Alena
beberapa belakangangan ini saya mengalami beberapa hal yang membinggungkanku. Satu
tahun ini saya binggung apa yang sedang terjadi dalam diri saya, seolah saya
tak mengenali siapa diri saya, dari mana
saya berasal dan tujuan saya. Berawal dari cerita lama yang teramat lama muncul
dalam memori saya, cerita di masa kecil yang saya rasa ini hanyalah guyonan semata, namun tidak secara
diam-diam memori kecil saya menyimpannya. Akhirnya, saat ini ketika usiaku 23th
memori kecil itu seolah menguasahi tubuh dan emosi saya.
Saya
akan menceritakan apa yang di simpan dalam memori itu.
“Masa
kecil, mungkin kalian akan membayangankan yang indah-indah di mana tanpa ada
teknologi cangih seperti saat ini, dan masa kecil otomatis dikelilingi
keceriaan permainan lompat karet, main kelereng, bakar benteng, bola bekel,
cublek-cublek sueng dan permainan-permainan lainnya. Aaah sungguh indah bukan
jika kita bisa kembali di masa itu, terlihat solidaritas kawan-kawan masih kuat
di sana. Jangan kira aku tidak merasakan hal itu terlebih hidupku, hidup di
kampung dan hidup secara nomaden, banyak sekali teman yang aku dapat dari kehidupanku
yang nomaden. Aku sangat suka dengan masa kecilku waktu itu, namun dalam bingkai
kecerian masa kecilku dulu ada segelintir hal yang tersimpan dalam memori
kecilku. Pembullyan, mungkin itu sebutan jika terjadi di masa kini.
Iya hidupku kecil sangatlah indah rasanya berpindah kesana kemarin mengikuti
arah pencarian nafkah ayah. Ayah yang otoriter aku rasa pada jamannya dulu,
ayah yang tempramen dan ayah yang lumayan arogan (sekarang sudah jinak). Benar
adanya, itu ayahku dulu sebelum aku
memberontak dalam keluargaku.
Dulu
usiaku kira-kira 4 atau 5 tahun hingga aku 8 tahun aku merasakan pembullyan dalam keluargaku sendiri, aku
selalu di juluki “anak pembawa sial” aku
tidak tau pasti apa yang melatarbelakangi diriku di sebut seperti itu,
yang aku tau aku anak ayah dan ibu serta adik dari kakakku. Seingatku setiap
kali ibu jual sayur keliling atau ayang berjualan tomat keliling denganku pasti
ada yang tidak habis, terus apakah itu salahku? Tidak kan, mungkin itu Tuhan
sedang menguji kesabaran ibu atau ayah (ibu merupakan petani palawija dan
sekaligus pedagang sayur dan ayah adalah seorang pekerja penyuluhan). Dan lagi
tiap kali aku pergi dengan mereka beberapa kali ban bocor dan laker motor
rusak, lagi-lagi mereka menyalahkan aku karena aku ikut dengan mereka, dan
melontarkan dengan sebutan “anak pembawa sial”. Apa salahku, mungkin karena
kalian tak teliti atau memeriksa kendaraan sebelum pergi, kenapa harus di
sangkut pautkan denganku? Bukan hanya anak pembawa sial saja tapi tubuh ini
hampir setiap hari di belai oleh rotan atau pecut
(sabetan kudalumping) oleh ayahku sendiri. Bukankah aku seperti kambing
yang tiap ada kesalahan atau tak mau menurut perkataannya di pecut agar nurut sesuai dengan
keinginannya. Hahahaha mungkin pada waktu itu. Keluarga kami otoriter sekali
ayah terutama, hingga kami anak-anaknya tak berani mengungkapkan pendapat, kami
mengiyakan terkadang dan seringkali dengan terpaksa agar kami tak di belai oleh
rotan.
Masa
kecilku bahagia ketika bersama teman-teman bermain, sedih ketika aku berada di
rumah. Jarang terdengar tawa di rumah, yang ada berselimut amarah. Ayah, dulu
dia sosok yang mahal senyumnya, tawanya dan yang ramah dengan amarahnya. Ibu,
sosok ibu yang mengasihi anaknya seperti ibu pada umumnya dan menurut dengan
suaminya. Kakak, sosok yang cuek namun sayang adeknya, tapi terkadang dia pun
jahat dengan adeknya, dia pun sering di belai rotan oleh ayah dan dia sosok
yang tak bisa jauh dari ibu hingga saat ini. Dan aku? Aku apa?aku adalah sosok
yang di kenal beda dalam keluarga, sosok perempuan yang bandel, dan sosok yang
takut ayah serta sosok yang ngebatin serta anak kecil yang takut dengan kamera.
Di
bilang rindu iya aku rindu masa kecil bermain dengan teman-teman bukan berada
dalam rumah selayaknya anak yang lainnya. “anak pembawa sial” yang tersimpan
dalam memori kecilku”.
Saya
tidak menyangka bahwa sebutan itu diam-diam tersimpan dalam memori kecil saya.
Hingga pada hari ini dan sudah terjadi 1 tahun lebih saya mulai tak mengenali
diriku, siapa saya? Aah jika saya berfikir dan menanyakan diriku di depan
cermin, yang saya dapat hanyalah emosi dan memori kecilku menguasai tubuh ini.
Perubahan yang sering saya alami adalah saya sering merasa sedih, gampang
sekali menangis atau menjadi pribadi melankolis, tidak percaya diri terhadap
apapun, malas, dan binggung dengan tujuan hidup. Mungkin saya stres atau baru
depresi, kurang paham saya. Enam bulan yang lalu saya sempat bertemu psikiater
kami berbincang persoalan ini, katanya saya adalah orang yang pendendam
sebenarnya. Saya membantah karena saya
tidak merasakan seperti apa yang ia tuduhkan, tidak saya baik-baik saja hidup
saya tidak untuk marah kepada orang.
Namun tidak dengannya, dia tetap kekeh bahwa aku adalah sosok yang pendendam.
Namun sayang pertemuan kami hanya bertahan 2 kali karena kami sibuk
masing-masing. Pada akhirnya lambat laun saya menyadari apa yang dilontarkan
psikiater itu terhadap saya, benar adanya memori kecilkulah yang memiliki sifat
itu, ternyata saya marah pada ayah dan ibu selama ini, saya mengorbankan
kewajibanku demi untuk mengungkapkan kemarahan. saya di kuasai oleh memori
kecil, “anak pembawa sial” itu yang selalu terbayang ketika aku ingat ayah dan
ibu serta kakakku.
saya
telah mengorbankan waktuku dan semua hingga saya binggung siapa saya, rasa
takut yang menyelimutiku saat ini. Diam, saya diam dan saya malu tiap kali
bertemu kawan, saya takut tiap kali bertemu orang baru dan saya memilih diam
untuk diriku sendiri. Jika orang bertanya padaku apaku kau baik-baik saja saat
ini? Saya akan menjawab “tidak, saya sedang tidak baik-baik saja” yang saya
butuhkan adalah kawan, kawan berbicara kawan yang membuatku nyaman. ............
Oh
iya perkenalkan namaku Nela, umurku kini 23 menuju 24 tahun, seorang mahasiswa
di salah satu universitas negeri di Indonesia. Ini adalah cerita dalam memori
kecilku yang membuat binggung dengan diriku sendiri. Aku masih mencari solusi
bagaimana aku harus menghadapi dan tubuh ini tak di kendalikan dengan trauma
yang ada. Yang aku ingin tanyakan pada kawanku, apakah trauma itu bisa hilang?
jika iya, bagaimana untuk mengakhirinya?
Aku
Nela, membutukan kawan berbicara dan kawan yang nyaman saat ini.
Terimakasih Alena.
Salam, Nela
_ _ _ _ _ _
_
Bagaimana
menurutmu Daflan apa yang harus ku perbuat, jika Nela seperti ini. Ini sungguh
mengangguku, Nela membutuhkanku dan apakah harus bersamanya. Sedangkan aku tak
tau keberadaanya dimana. Surat ini pun belum aku balas karena aku tak tau harus
berbuat apa. Dia Nela Daflan, membutuhkan kawan dan kenyamanan.
Dariku,
Alena
Komentar
Posting Komentar